Riset Menyebutkan Kondisi Para Penulis Manhwa Mengenaskan

Manhwa meraih kepopuleran yang meroket dalam beberapa tahun terakhir ini. Sayangnya, hal itu juga membawa konsekuensi buruk. Kabar terbaru menyebutkan bahwa para penulis manhwa mengalami kondisi yang mengenaskan.

Kepopuleran manhwa memang meningkat seiring semakin digemarinya budaya pop Korea, menyusul drakor, KPOP, dll. Hal itu pun dibantu dengan format komik yang lebih bersahabat dengan smartphone, yaitu menggunakan tata letak vertikal, melalui platform seperti Webtoons.

Riset Soal Kreator Manhwa

Informasi soal kondisi para kreator ini datang dari Badan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Korea yang diterbitkan pada tanggal 5 Januari 2023 (khan.co.kr via Manhwa Bang)

Sebuah tim dari Badan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Korea itu melakukan studi kasus pada dua manhwa, yaitu Solo Leveling dan Roxana (The Way to Protect the Female Lead’s Older Brother).

Kasus pertama berkaitan dengan penulis manhwa Solo Leveling, Jang Seong-Rak (Dubu) dari Redice Studio, yang meninggal dunia pada tahun 2022 akibat penyakit kronis. Beberapa orang yang bergerak di industri ini menyebutkan bahwa salah satu hal yang memperparah adalah lingkungan kerja yang buruk.

Kasus kedua adalah ilustrator Roxana, Juniljus, yang disebut menderita gangguan kesehatan akibat jam kerja yang panjang dan tekanan dari editornya. Hal ini berujung dengan ia mengalami keguguran kandungan.

Riset tersebut juga menunjukkan kecenderungan kondisi mental yang terpuruk. 28.7% penulis manhwa yang menjadi responden survey mengaku depresi. Persentase yang cukup tinggi jika dibandingkan dengan skala nasional Korea yang berjumlah 7,7%.

Kemudian, yang lebih mengenaskan, 17.3% penulis berpikir soal bunuh diri, 8.5% merencanakannya, dan 4% sudah mencobanya.

Selain itu, kondisi fisik para kreator manhwa itu pun mengalami gangguan kesehatan. Ada gangguan otot dan anggota badan yang sakit akibat bekerja dalam posisi duduk dalam jangka waktu panjang.

Secara psikologi, depresi dan gangguan tidur akan meningkat jika karya mereka mendapat komentar buruk (yang berujung pada tekanan dari editor yang meningkat).

Bukan Kejadian Baru di Industri Komik

Sebagai pembaca, mungkin kita sulit membayangkan tekanan yang dialami para kreator. Bagaimanapun kita tinggal menunggu chapter baru terbit tiap minggu.

BACA JUGA  Momen Epik Favorit dari Berbagai Chapter Komik Solo Leveling

Toh, kondisi tersebut memang nyata. Pembaca Solo Leveling mungkin ingat beberapa kali penerbitan chapter tertunda akibat masalah kesehatan Jang Seong-Rak. Salah satunya ketika chapter 147 (Sung Jin-Woo bertarung lawan Thomas Andre) akan terbit.

Kondisi seperti ini pun sayangnya bukanlah kisah baru. Penggemar manga alias komik Jepang juga pasti sudah mengenali kasus seperti ini. Bagaimanapun, sebelum manhwa populer, para mangaka sudah mengalami kondisi serupa. Misalnya  Yoshihiro Togashi dari manga Hunter x Hunter.

Bahkan kisah yang penuh tekanan bagi para mangaka seperti ini pun bisa kamu baca dari beberapa manga. Manga soal mangaka seperti Bakuman atau Hitman bisa memberi sedikit gambaran.

Lalu ternyata, walau perkembangan teknologi sudah maju dan proses menggambar secara digital sudah lebih umum, ternyata hal itu tidak mengurangi tekanan besar para kreator komik.

Ironisnya, platform online yang mempermudah publikasi nampaknya justru memberi tekanan tambahan. Waktu terbit yang ketat dan respon dari pembaca yang lebih cepat membawa konsekuensi tersendiri pada para penulis manhwa.

%d blogger menyukai ini: