(Review) Once Upon A Time In Hollywood – Sisi ‘Baik’ Quentin Tarantino

once upon a time in hollywood

Once Upon A Time In Hollywood adalah film yang mendapatkan review cukup baik di kalangan kritikus. Film ke-9 dari sutradara kondang Quentin Tarantino ini juga masuk dalam nominasi untuk kategori Best Pictures di ajang penghargaan Oscar.

Jika kalian pernah menonton film-film Quentin Tarantino sebelumnya, mungkin agak sedikit terpukau dengan gaya yang disuguhkan Quentin. Once Upon A Time In Hollywood terkesan dewasa, mengalir dan intens.

Dalam film ini Quentin menggaet aktor-aktor ternama seperti Leonardo DiCaprio, Brad Pitt dan Margot Robbie. Ketiga bintang ini benar-benar sukses maksimal memainkan perannya masing-masing.

Rekontruksi Sejarah

Cerita film Once Upon A Time In Hollywood dibuka dengan ciri khas estetika Tarantino. Dengan cuplikan adegan serial televisi hitam putih tahun 1950-an berjudul Bounty Law. Diceritakan serial Bounty Law adalah serial yang melambungkan aktor bernama Rick Dalton (Leonardo DiCaprio). Di sisi lain, adegan pembuka menceritakan kehadiran aktris dan sutradara pendatang baru Sharon Tate (Margot Robbie) dan Roman Polanski.

leonardo dicaprio sebagai rick dalton

Film ini saling bergantian menceritakan kisah Rick Dalton dan sang stuntman Cliff Booth (Brad Pitt) serta kehidupan sang aktris Sharon Tate. Sepanjang adegan pembuka kita didekatkan dengan tiga karakter utama. Yakni Rick Dalton yang melankolis karena takut kehilangan kepopuleran, sang stuntman yang easy going namun badass serta kepolosan aktris naik daun Sharon Tate.

Cerita berjalan di antara ketiga tokoh tersebut, merekontruksi kondisi Hollywood tahun 1960-an dengan menghadirkan invasi flower generation, naik daunnya Bruce Lee, mobil-mobil Chevrolet serta bioskop-bioskop tua di Los Angeles. Cerita dibangun dengan dialog khas, beberapa adegan flashback dan tindak-tanduk dari tiga karakter tersebut. Di akhir cerita, Once Upon A Time In Hollywood memberikan sebuah alternatif sejarah. Yup. kisah Tarantino ini adalah pilihan lain dari tragedi pembunuhan Sharon Tate oleh kelompok cult Charles Manson yang terjadi pada tahun 1969.

Penuturan Lama Dengan Atmosfir Yang Berbeda

Jika kalian pernah menonton film-film Quentin Tarantino yang lain, kalian pasti langsung tersadar bahwa Quentin membawa atmosfir yang berbeda dalam film ini. Jika dalam film sebelumnya Quentin enggan memberi simpati atau emosi ‘baik’ pada tokoh dan cerita, Once Upon A Time Hollywood memberikan suatu yang baru.

Quentin menggunakan penuturan lama yang meliputi elemen referensi kultur pop, dialog-dialog khas, komedi satire, dark jokes, sinematografi khas sampai pemilihan soundtrack yang mustahil gagal. Namun entah mengapa dengan penuturan tersebut Quentin dapat membawa atmosifr melankolia yang benar-benar berat saat melihat karakter Rick Dalton.

brad pitt sebagai cliff booth

Benar-benar intense, Quentin juga tetap menghadirkan pertarungan berdarah-darah yang menjadi ciri khasnya dengan menggunakan tokoh Cliff Booth. Adegan pertarungan tersebut secara tidak langsung menjadi fans service tersendiri. Yang lebih membuat terpukau adalah ending film. Saat kamera mulai menjauhi kediaman Sharon Tate, Quentin seperti berbicara dengan lantang “Gue juga bisa baik kok!”

Menarik Tapi Bukan yang Terbaik

Cerita dari film Once Upon A Time In Hollywood memang menarik. Dengan gaya khas Tarantino tentunya. Namun sayangnya film ini bukan yang terbaik. Yah saya masih lebih suka dengan film-film Tarantino yang lain, meskipun saya juga suka dengan film ini. Terlepas dari masalah penggambaran Bruce Lee dalam film ini, saya kira Quentin mampu menghadirkan atmosfir baru dalam filmnya.

Ringkasan
Dalam Once Upon A Time In Hollywood, Quentin Tarantino dapat menghasilkan karya dengan atmosfir baru. Meski begitu Quentin tidak mengilangkan penuturan estetika khas yang selalu ia hadirkan dalam setiap film-filmnya
9
MANTUL!

Latest Reviews

More Stories
Chris Evans: Jangan Anggap Remeh Captain America di Infinity War
%d blogger menyukai ini: