Review The Wonder (2022): Film Drama Psikologis yang Meresahkan

the wonder

Aktris Florence Pugh kembali muncul dengan film drama terbarunya berjudul The Wonder pada November 2022 ini. Sutradara asal Chile, Sebastián Lelio harus mengeksplor Irlandia tahun 1862 dalam sebuah cerita psikologis yang unsettling.

Film yang diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Donoghue. Novel ini juga menyatir kisah nyata yang benar-benar terjadi di tahun 1860-an di Irlandia.

The Wonder

Sinopsis Film

The Wonder, apabila diibaratkan seperti buah yang diperas isinya, maka yang terlihat adalah cerita misteri yang dibalut berbagai kerumitan. Kerumitan yang ada bisa merupakan setting tempat yang terpencil, asing bagi penonton.

Setting waktu juga menambah puzzle kerumitan tersebut. Irlandia pada abad pertengahan, di mana pemikiran masih bertransisi antara mistis dan modern, membuat para penonton akan banyak mengeryitkan dahi.

1862, 10 tahun setelah “Great Famine”, Kelaparan Massal yang disebabkan kegagalan panen yang merenggut nyawa jutaan warga Irlandia. Tensi antara Irlandia dan negara sekitarnya masih tegang.

Di tengah situasi tersebut, seorang mantan perawat tentara, Lib Wright menerima pekerjaan sebagai penjaga seorang gadis 11 tahun bernama Anna.

Anna adalah gadis yang sudah empat bulan tidak makan, dan hanya hidup dengan minum air.

Reporter Will, Lib, dan Anna

Awalnya, Lib mengira Komite-perkumpulan pimpinan kota kecil tempat Anna tinggal- memanggilnya karena membutuhkan kemampuannya sebagai perawat.

Tetapi, Komite memanggilnya hanya sebagai penjaga. Mengawasi Anna selama setengah hari, dan setengah harinya lagi diserahkan pada Sister Michael (Josie Walker) selama beberapa hari ke depan.

Jadilah Lib harus mengawasi Anna, hanya dengan diberi satu pesan.

“Awasi dia, jangan sampai Anna makan.”

Rahasia yang tersimpan di balik situasi Anna membuat Lib harus memilih antara hidup sesuai pekerjaannya, atau mengikuti kata hatinya.

Misteri yang Blatant Sejak Awal

Bagi para pecinta misteri, mungkin agak ragu untuk mengkategorikan The Wonder sebagai film misteri. Karena, jawaban di balik misteri yang ada sebenarnya sudah tersedia sejak awal film.

Arahan sutradara Sebastian Lelio dan musik dari Matthew Herbert membuat kita terbawa ke Irlandia zaman pertengahan bukan secara immersive.

Elemen-elemen prop dan setting memang merujuk pada dunia zaman pertengahan, tetapi pengarahan dan pengambilan gambar membuat berjalannya film seperti buku cerita yang bergerak.

BACA JUGA  Ini Rangkuman Informasi Penting Dari Acara Tudum Netflix.

Ada beberapa momen di mana para aktor terutama tokoh utama, Lib, seperti menembus fourth wall dan berbicara langsung para penonton.

Bagian-bagian itulah yang membuat penonton mempertanyakan jawaban misteri yang disajikan sejak awal film.

Mengapa Anna tidak makan? Mengapa dia diperlakukan seperti anak suci? Mengapa orang tuanya setuju akan semua itu? Mengapa sekumpulan orang-orang yang diuntungkan dengan adanya “orang suci” di kota tersebut merasa terancam oleh kedatangan Lib? Apa yang terjadi apabila seorang akademisi yang menuntut uji faktual berhadapan dengan kepercayaan kultus tanpa batas?

Semua jawaban itu sebenarnya sudah ada di awal, tetapi karena kita sebagai penonton tertangkap off guard dengan pembawaan dan elemen yang unik tersebut, maka kita menjadi ragu. Karena jawaban yang kita miliki berdasarkan pandangan kita sebagai manusia era modern, bukan era pertengahan seperti Lib.

Para Karakter yang Mismatch

Ketika film dimulai dan perjalanan Lib ke Irlandia dimulai, kita bertemu berbagai karakter yang mismatch. Lib sendiri adalah seorang perawat yang stoik, tak banyak berekspresi, dan hanya menjawab ketus setiap percakapan. Bukan tipikal seorang perawat.

Ketika sampai di desa tempat Anna tinggal, dia disambut oleh penjaga bar yang tak ramah, keluarga asuh tempatnya tinggal yang tak mau berurusan dengannya, dokter yang kelewat mempercayai hal mistis, dan sebagainya.

Lib harus menghadapi situasi apakah bertahan hidupnya Anna selama empat bulan tanpa makan itu adalah keajaiban sungguhan, atau hanya fabrikasi orang-orang dewasa sekitarnya.

Di tengah masyarakat yang masih berpendidikan rendah disertai kepercayaan akan keajaiban, hal mistis, dan pengkultusan orang suci yang menyebar ke semua orang tanpa terkecuali.

Bahkan orang-orang yang seharusnya berpendidikan pun juga memiliki mindset yang sama. Jika demikian, bagaimana seseorang yang membawa bendera ilmu pengetahuan menghadapi itu semua.

Apakah dengan menuruti aturan ilmu pengetahuannya, atau justru menyerahkan semua pada adat dan istiadat yang sudah ada?

Lib di hadapan para komite

Tema yang Diangkat

Selain tema misteri, film ini juga menyinggung dalamnya kepercayaan dan dalamnya harapan masyarakat zaman pertengahan kepada keajaiban. Sesuatu yang kita anggap sebagai hal yang wajar di era modern, bisa jadi sesuatu yang begitu asing bagi orang-orang di masa lalu.

BACA JUGA  Zack Snyder Ingin Buat Film 'Rebel Moon' Seperti Star Wars

Film ini juga mengangkat tema involuntary complicit. Terkadang seseorang bisa terjebak menjadi komplotan dalam melakukan suatu tindak kejahatan. Entah faktor penyebabnya karena mereka tak bisa menolak atasan, atau karena cara pandang mereka yang sudah terbentuk salah sehingga tak menganggap apa yang mereka lakukan itu salah.

Yikes Point

Meski sudah disebutkan sebelumnya soal poin-poin positif film The Wonder ini, ada beberapa poin lain yang bisa membuat kita mengeryitkan dahi, bukan dalam arti positif.

Ada beberapa momen perubahan perilaku karakter yang kontras. Seolah dipercepat untuk memajukan plot cerita. Selain itu, ada beberap konten yang rasanya tak layak dipertontonkan untuk anak kecil.

Open Ending

Sejak awal film, Lib menarasikan sebuah paragraf. “Semua di kehidupan ini adalah cerita, apa ceritamu?”. Kata-kata itu kembali diulang di akhir film.

Alegori Pluto begitu kental di akhir film ini. Membuat penonton harus menyimpulkan sendiri akhir dari cerita ini. Seperti orang yang dipenjara di gua Pluto, mereka tak tahu kalau mereka terjebak setelah keluar dari gua.

Mainan burung milik Anna yang memanfaatkan ilusi optik juga mengikuti alegori ini. Lukisan burung tersebut pada suatu saat terlihat terperangkap di sangkar, tetapi di saat yang lain terlihat bebas.

Pada akhirnya, kesimpulan ada di tangan penonton. Apakah keputusan yang diambil Lib benar atau tidak, atau justru hanya seperti ilusi mainan burung milik Anna.

The Wonder tayang sejak 16 November 2022 di Netflix. Trailer The Wonder dapat disimak di bawah ini.

the wonder
The Wonder
Berani, Tapi Bisa Bikin Mengernyitkan Dahi
Sedikit slow di pertengahan, tetapi film yang berani mengeksplor ide-ide yang terasa asing namun begitu dominan di eropa era pertengahan khususnya untuk kita orang asia
7
%d blogger menyukai ini: