Film “Pinocchio” Karya Guillermo del Toro Bakal Anti Mainstream

Pinocchio karya Guillermo del Toro dijadwalkan tayang di Netflix Desember tahun ini. Tidak seperti pada umumnya, cerita Pinokio kali ini memiliki sensasi yang sangat berbeda.

Awal tahun 2022, kita dikagetkan dengan munculnya animasi pendek berdurasi 2.21 menit. Animasi itu adalah Pinocchio: A True Story yang dirilis oleh Lionsgate Movies.

Netizen pun serentak menghujat desain dan voice yang katanya sangat jauh dari sempurna. Bahkan mereka sempat menyebutnya dengan film anggaran rendah.

Secara kebetulan, tahun ini juga akan tayang 2 film tentang Pinokio yakni oleh Netflix dan Disney. Film Pinokio dari Disney merupakan adaptasi live-action yang dibintangi oleh Tom Hanks, Robert Downey, Jr, Luke Evans, dan juga Joseph Gordon-Levitt.

Namun kita harus tetap menonton keduanya ya. Karena meski berangkat dari judul dan inspirasi yang sama, jalan ceritanya sangatlah berbeda.

“Pinocchio” Dari Guillermo del Toro Berbeda

Guillermo del Toro menceritakan visinya soal film ini dalam wawancara dengan Vanity Fair. Ia mejelaskan kalau film ini hadir sebagai animasi stop motion boneka bergenre musikal. Del Toro mengatakan bahwa film ini, “sebuah cerita soal boneka, dengan boneka.”

Jadi, film animasi Pinokio ini bukan sekedar cerita tentang seorang anak boneka kayu. Tapi lebih dalam, baik secara spiritual dan filosofis.

Kemudian, Pinocchio karya Guillermo del Toro ini bukanlah hadir dari alam dongeng anak-anak. Melainkan memiliki latar belakang cerita yang terjadi antara perang dunia pertama dan perang dunia kedua di Italia. Maraknya fasisme dan pemerintahan otoriter pada waktu itu mengakibatkan para manusia tak ubahnya seperti sebongkah boneka, yakni sangat patuh dan setia.

Dari sini muncullah sebuah ungkapan, “sikap yang dimiliki Pinokio adalah ketidakpatuhan, di saat semua orang berperilaku seperti boneka, dia tidak”.

photo by Anthony Breznican on Vanity Fair

Dengan menggunakan latar perang dunia, Pinokio tidak digambarkan sebagai anak yang nakal, bego, dan berjuang melawan kebohongan. Malahan Guillermo del Toro membawa Pinokio sebagai anak yang sedang mencari jati dirinya di tengah para manusia tidak lagi memiliki sifat di bawah tekanan otoriter.

Perbedaan juga hadir dari segi pembuatan boneka oleh Geppetto. Kayu yang digunakan untuk membuat Pinokio adalah batang pohon yang tumbuh di atas makam anak Geppetto, Carlo. Dari sini kebiasaan-kebiasaan Carlo muncul. Seperti hobi nonton karnaval, sampai kesukaannya pada cokelat panas.

photo by Anthony Breznican on Vanity Fair

Guillermo del Toro juga ingin agar kisah di film Pinocchio ini hadir sedekat mungkin dengan dunia nyata. Misalnya hanya ada satu tokoh hewan yang secara magis hidup, yaitu Jimmy Jangkrik.

Dengan begitu, Guillermo del Toro membuat tokoh antagonis Count Volpe bukan sebagai rubah, tapi seorang manusia dengan karakteristik seperti rubah. Del Toro menggambarkannya sebagai “bangsawan yang jatuh dalam kemalangan”.

photo by Anthony Breznican on Vanity Fair

Lalu, tidak ada “Pleasure Island” di film Pinocchio buatan Guillermo del Toro. Lokasi yang di cerita aslinya bernama Dunia Mainan ini merupakan sebuah wilayah tempat anak-anak bisa berbuat semau mereka. Namun semakin nakal, mereka akan berubah menjadi keledai.

Di film buatan Guillermo del Toro, Pinokio ini malah jadi buronan pemerintah, yang memasukkannya ke dalam kamp militer. Pemerintah ingin bereksperiment terhadap Pinokio dengan harapan menciptakan prajurit yang tidak bisa mati.


Bagaimana? Unik kan? Jadi, nantinya kita bisa melihat dua film Pinokio yang benar-benar berbeda. Silakan nantikan film Pinocchio dari Guillermo del Toro ini pada bulan Desember 2022.

Yuk, lanjut baca
mulan final trailer
Trailer Terbaru Mulan: Ini Bukan Film “Princess” Biasanya
%d blogger menyukai ini: