Review Satria Dewa: Gatotkaca (2022), Film Superhero Ambisius Karya Anak Negeri

Film Satria Dewa: Gatotkaca karya sutradara Hanung Bramantyo sempat digadang-gadang menjadi pionir genre film superhero tanah air. Lantas, bagaimana performanya di atas lapangan? Mari kita bahas.

Satria Dewa : Gatotkaca diadaptasi dari Epik Mahabaratha

Diangkat dari cerita Kakawin Bharatayuddha, yang juga merupakan gubahan dari cerita epik Mahabaratha yang merupakan salah satu dari dua cerita epik terbesar dalam mitologi India selain Ramayana.

Cerita Mahabaratha sangat diminati dan diadaptasi dalam berbagai media di berbagai era dikarenakan temanya yang universal meskipun karakternya sangatlah “kedewaan”. Kisah pertempuran para dewa, konflik Pandava (Pandawa) dan Kaurava (Kurawa), Baik melawan buruk, dinilai memiliki nilai filosofi dan moral yang universal dan dapat diterima oleh semua kalangan.

Layaknya lika-liku epik mahabaratha yang menjadi sumber asal dari cerita tokoh Ghatotkacha (Gatotkaca), proses pembuatan film Gatotkaca yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo yang sempat menuai kontroversi ini juga mengalami pergulatan yang bisa dibilang lebih heboh ketimbang apa yang digambarkan di dalam filmnya sendiri.

Gatotkaca dengan kostum lengkapnya

Sinopsis Singkat Film

Yuda (diperankan Rizky Nazar), mengalami kejadian traumatik saat kecil, dan hidup sebagai mahasiswa  DO yang mengambil pekerjaan sebagai kameraman freelance untuk menopang hidupnya Bersama Ibunya yang mengalami gangguan mental sejak peristiwa 15 tahun yang lalu.

Kehidupan Yuda berubah Ketika teman baiknya, Erlangga (Jerome Kurnia) meninggal dibunuh oleh pembunuh misterius yang menghantui kota. Dibantu oleh Agni (Yasmin Napper), Dananjaya (Omar Daniel), Yuda harus menghadapi perang misterius yang sudah berlangsung ribuan tahun antara Pandawa dan Kurawa, juga mengungkap jati dirinya yang sebenarnya.

Asal Muasal Film Satria Dewa: Gatotkaca

Karakter Gatotkaca sendiri sangat popular di dunia perwayangan Indonesia. Gatotkaca yang memiliki darah iblis namun berada di pihak Pandawa menunjukkan bahwa garis keturunan tak bisa menentukan sifat asli yang dimiliki seseorang.

Gatotkaca yang pada epik Mahabaratha berhasil memaksa musuh bebuyutan Arjuna, yakni Karna, untuk menggunakan senjata utamanya dengan mengorbankan nyawanya sendiri. Akibatnya, Ketika waktunya untuk menghadapi Arjuna, Karna sudah melemah  dan mudah dikalahkan oleh Arjuna. Kekalahan Karna memulai fase akhir dari perang di Mahabaratha.

Sifat siap berkorban dan ksatria tersebut sangat digemari oleh penggemar dunia pewayangan yang mengadaptasi Kakawin Bharatayuddha, sehingga tak mengherankan kalau kisah Gatotkaca Kembali diangkat di era layar kaca modern.

BACA JUGA  Spoiler Baru di My Hero Academia Season 3

Membludaknya film superhero, terlebihnya Marvel dan Marvel Cinematic Universe-nya yang diluncurkan sejak tahun 2008, membuat rumah-rumah produksi film, tak hanya yang berpusat di Hollywood, termasuk yang ada di tanah air juga mencoba peruntungan mereka.

Hanya tinggal menunggu waktu saja, untuk sebuah rumah produksi baru yang berdiri di tahun 2018, Satria Dewa Produksi, untuk melirik kolam cerita epik Mahabaratha yang penuh intrik untuk diadaptasi. Tak main-main, bos-bos media seperti Erick Thohir dan Wishnutama menjadi pemegang saham di Satria Dewa Produksi.

Kontroversi Film Gatotkaca

Banyak yang mengeryitkan dahi, mengingat minat dan antusias anak-anak muda sebagai target audiens film superhero, membuat tentunya bakal ada adaptasi tertentu untuk menyesuaikan cerita Gatotkaca agar sesuai di era modern. Tetapi, Satria Dewa Produksi tetap move on dengan proyek mereka, dan produksi film Gatotkaca pun dimulai.

Kontras dengan hype dan ekspektasi yang bergelombang tinggi di awal pendirian Satria Dewa Produksi, proses pembuatan film pionir yang digadang-gadang untuk memulai proyek besar Cinematic Universe bertema Mahabaratha. Bernama Satria Dewa Semesta, justru menemukan berbagai batu hambatan yang tak terkira.

Charles Gozali, yang awalnya sudah diplot menjadi sutradara, memutuskan berhenti pada tahun 2019, digantikan oleh Hanung Bramantyo. Meskipun banyak pihak yang malah tidak mempermasalahkan pergantian ini, mengingat Hanung sudah akrab dengan seluk beluk produksi film superhero. Tak hanya sutradara, produser Rene Ishak pun diganti dan Namanya bahkan tak dimunculkan pada kredit.

Dari kiri ke kanan : Rizky Nazar (Yuda), Hanung Bramantyo, Yasmin Napper (Agni)

Proses syuting yang terhambat oleh pandemic Covid-19 kembali menjadi salah satu badai yang melanda rilisnya Gatotkaca, sebelum akhirnya rilis di theater tanah air sesuai dengan release date yang ditentukan pada 9 Juni 2022.

Sempat ada kontroversi dikarenakan kostum utama superhero Gatotkaca, yang diproduksi oleh desainer kostum superhero yang pernah menangani kostum salah satu superhero Marvel, Daredevil, mencurahkan isi pikirannya di media sosial.

Nayt, sang desainer, menyebutkan kalau namanya tidak dimasukkan dalam kredit film Gatotkaca. Kontroversi tersebut ikut melukai citra film sebelum rilis secara nasional, dikarenakan kostum yang biaya produksinya dikisar mencapai 1 milyar rupiah tersebut juga merupakan elemen utama promosi dan merchandise.

Meski demikian, film Satria Dewa Gatotkaca berhasil rilis di tanah air sesuai jadwal semula.

BACA JUGA  Review Film Moxie: Perkenalan Ringan Pada Feminisme

Saat ini, Satria Dewa Gatotkaca tersedia di layanan streaming Netflix.

Resepsi Masyarakat Luas

Meski berhasil rilis walaupun diterpa berbagai halangan dan kontroversi, biaya produksi yang begitu membengkak membuat hasil penjualan Satria Dewa Gatotkaca belum memenuhi threshold biaya produksi mereka yang mencapai 24 milyar. Sampai artikel ini ditulis, pendapatan kotor Gatotkaca baru mencapai angka 7,3 milyar.

Ditambah lagi, perilisan Gatotkaca juga sempat menyita komunitas meme, dikarenakan kontroversi mengenai desainer Nayt. Bermunculan postingan meme dengan pola seperti meme salah satu film Marvel produksi Sony, Morbius.

Meme Gatotkaca Sweep

Superhero fatigue , atau jenuhnya animo masyarakat akan film superhero, dinilai menjadi salah satu penyebab rendahnya pendapatan Gatotkaca. Audiens selalu dijejali film superhero baru dari Hollywood baik dari produksi Marvel maupun DC, membuat munculnya kejenuhan audiens.

Marvel dan DC sendiri sudah mengurangi frekuensi perilisan film layar lebar mereka dan mulai melebar ke pembuatan serial TV.

Selain itu, waktu perilisan Gatotkaca yang hamper bersamaan dengan salah satu film superhero Marvel yang paling dinantikan, Doctor Strange : In the multiverse of madness¸serta film sekuel dari aktor kawakan Tom Cruise, Top Gun Maverick, membuat Gatotkaca harus bersaing dengan raksasa bisnis film superhero itu sendiri.

Final Verdict

Lantas, bagaimana dengan film Gatotkaca itu sendiri, terlepas dari berbagai embel-embel problematik di atas? Mari kita bahas.

Masalah script dialog terlihat kentara dalam jalannya film. Masalah yang dimaklumi dikarenakan bongkar pasang komando atas produksi film, yang juga berpengaruh pada jalannya cerita. Penumpukan eksposisi demi eksposisi di setiap momen, tanpa membiarkan audiens meresap penjelasan tersebut, menjadi salah satu kekurangan fatal.

Audiens dijejali berbagai elemen plot tanpa henti. Bahkan karakter di dalam film sendiri tidak diberi kesempatan untuk mencerna apa yang terjadi. Plot poin demi plot poin terus terjadi tanpa henti, dan karakter bahkan tidak sempat untuk bersedih di momen sedih, dan mengalami konflik saat kebingungan.

Selain itu, problem Mystery Box juga kentara di film ini. Mystery Box adalah istilah yang dipopulerkan sutradara popular Hollywood, JJ Abrams. Mystery Box mendeskripsikan tentang perlunya membuat poin kejutan sebanyak mungkin untuk melewati ekspektasi audiens, meskipun poin kejutan tersebut tidak harus dijawab di film tersebut.

Pada 20 menit terakhir, penonton bisa mendapati contoh Mystery Box yang kurang klop. Perpindahan faksi dan perubahan motif karakter yang mendadak demi mengejutkan audiens, terlihat begitu kentara.

BACA JUGA  Akankah 'Ant-Man' Menjadi Kartu As dalam Rencana 'Doctor Strange'?

Rizky Nazar sebagai pemeran utama adalah yang paling berkesempatan menunjukkan perubahan ekspresi dalam acting-nya, meskipun masih belum terlihat maksimal. Begitu juga dengan pemeran Agni (Yasmin Napper), dan Dananjaya (Omar Daniel). Penempatan momen joke dan bathos yang kurang pas dinilai tidak memaksimalkan kemampuan para aktor muda tersebut.

Kru Satria Dewa Project

Selain masalah script, latar belakang kota yang menjadi pusat terjadinya konflik, Kota Astinapura, terasa bukan seperti kota sungguhan. Lokasi-lokasi yang dikunjungi terasa sebagai bagian dari prop, dan tidak pernah ditonjolkan sebagai lokasi spesial.

Semua itu memunculkan kesan bahwa lokasi yang ditampilkan ada karena ada scene yang membutuhkan lokasi tersebut. Mengingat Gatotkaca diharapkan membuka Cinematic Universe, lokasi adalah elemen penting dalam keberlanjutan setting.

Sinematografi ala Galang Galih menunjukkan kualitasnya dalam bagian percakapan antar karakter. Tetapi, sinematografi saat adegan action masih memakai banyak teknik cut antar adegan sebelum dan sesudah pukulan dilemparkan, menjauhkan kesan realisme yang seharusnya kental dalam film action Indonesia. Mengherankan, mengingat Cecep Arif Rahman juga muncul sebagai salah satu pemeran.

Meski demikian, efek visual Gatotkaca bisa diacungi jempol. Berbagai adegan yang menggunakan CGI tersambung dengan baik, baik adegan kekuatan khusus atau adegan perubahan kostum Yuda. Studio Lumine yang menjadi studio CGI utama film patut berbangga akan hasil kerja mereka.

Selain itu, iringan musik hasil komposisi Ricky Lionardi, juga patut diapresiasi. Ricky yang sebelumnya berpengalaman sebagai komposer film-film horor seperti Tembang Lingsir (2019) dan Lukisan Ratu Kidul (2019). Suasana mencekam dan mistis menekankan sosok Gatotkaca sebagai pahlawan yang bersumber dari mitologi.

Vibe yang sama juga dibawa ke theme song film yang dibawakan oleh Kotak, berjudul Hantam!

Overall, Satria Dewa: Gatotkaca adalah film yang menunjukkan potensi cerita lokal dengan ambisi yang besar. Meski belum memenuhi target pendapatan, masih diharapkan kedalaman cerita di universe yang baru terlahir ini ke depannya.

Satria Dewa: Gatotkaca (2022)
Satria Dewa: Gatotkaca Masih Kurang Nendang
Satria Dewa: Gatotkaca adalah film yang menunjukkan potensi cerita lokal dengan ambisi yang besar, tapi kurang punya kedalaman cerita di universe.
5
"B" Ajah
%d blogger menyukai ini: