Review: Triple Frontier (2019) – Ketika Tentara Merampok Pimpinan Kartel

triple frontier

Kali ini saya akan membahas film tahun 2019 berjudul Triple Frontier. Film ini cukup unik karena menggabungkan nuansa militer dengan tema perampokan (heist). Selain itu, film ini juga sarat dengan bintang macho.

Para aktor yang memerankan karakter film ini adalah: Ben Affleck, Oscar Isaac, Charlie Hunnam, Pedro Pascal, dan Garrett Hedlund. Seperti kamu lihat, nggak kalah sama Ocean Twelve atau The Expendables.

Tapi apakah film Triple Frontier ini bagus? Mari kita kupas.

Punya Cerita dan Latar Menjanjikan

Secara sederhana, jalan cerita film Triple Frontier seperti ini: Setelah berjasa untuk negara namun tidak memiliki masa depan pasti, sekelompok tentara bersepakat melakukan operasi untuk diri mereka sendiri. Targetnya adalah merampok pimpinan kartel di Amerika Selatan, sekaligus membunuhnya.

Seperti bisa kamu lihat, premis cerita film ini cukup menarik. Plotnya sedikit berbeda dari film perampokan biasanya. Di samping itu juga berbeda dari kisah operasi militer film action pada umumnya.

Kamu masih bisa melihat kekhasan film heist, seperti perencanaan, jalannya operasi, sampai proses kabur. Bedanya semua itu berjalan ala operasi militer di belantara hutan dan pegunungan Amerika Selatan.

Karakter Menarik Namun Janggal

Tokoh-tokoh film ini sebenarnya menarik dan punya potensi. Namun penggambaran tokoh yang ada kurang sesuai dengan perkembangan cerita. Sungguh sayang.

Misalnya tokoh Tom ‘Redfly’ Davis yang diperankan oleh Ben Affleck. Ia dikesankan sebagai pimpinan yang ahli strategi. Ia awalnya ragu bergabung karena sudah punya anak istri. Namun kemudian ia justru jadi orang paling tidak konsekuen dan tidak tegas.

Tokoh Francisco ‘Catfish’ Morales (Pedro Pascal) dan tokoh Ben Miller (Garrett Hedlund) sebenarnya punya potensi menjadi titik lemah tim. Catfish belum lama tertangkap jadi pilot penyelundup narkotika, dan Ben yang ikut MMA berkesan gampang panas. Tapi tidak ada perkembangan karakter berarti dari keduanya.

Kurang Konflik Nyata

Kemudian, di film ini tidak ada tokoh yang benar-benar antagonis. Ya, memang ada sang pimpinan kartel. Namun ia tidak menjadi peran antagonis seperti film action umumnya. Istilahnya tidak jadi bos terakhir.

BACA JUGA  Trailer Serial Anime "Transformers: War For Cybertron Trilogy"

Bahkan ketika ketahuan kalau uang yang mereka ambil bukan hanya milik si bos kartel itu saja. Ada ucapan dari sekretaris si bos kartel, kalau mereka akan diburu banyak pihak. Namun ternyata tidak ada kelanjutannya. Yang memburu hanyalah anak kemarin sore dari satu plot cerita yang kurang kuat.

Alih-alih, film ini berusaha memberi ketegangan dari apa yang dilalui oleh tokoh-tokohnya. Sekelompok tentara yang memiliki hubungan erat alias bromance ini mendapat ujian dalam beberapa kejadian. Toh konflik di antara mereka tidak pernah benar-benar jadi ujian nyata.

Bisa Lewat Begitu Saja

Jadi, film ini sebenarnya punya potensi yang bagus. Namun karena beberapa hal di atas, jadi kurang dramatis dan berkesan. Yah, kasusnya mungkin serupa dengan film The 355.

Menariknya, kedua film ini punya beberapa hal serupa. Yang satu tim punya anggota cowok semua, sedangkan yang lain cewek semua. Lalu, kedua film sama-sama tidak menjelaskan makna judul yang ada (“Triple Frontier” merujuk perbatasan Brazil, Paraguay, dan Argentina. Sementara “355” adalah kode mata-mata perempuan di era Revolusi Amerika).

Yah, nggak ada salahnya kalau kamu mau nonton film ini untuk sekedar hiburan. Masih layak jadi tontonan. Hanya saja, cukup sayang melihat potensi yang ada tidak punya hasil yang maksimal.

Kalau kamu berminat, film Triple Frontier yang tayang awal di tahun 2019 ini bisa kamu saksikan di Netflix.


triple frontier
Triple Frontier
Lumayan Seru, Tapi Kurang Nendang
Sebagai sebuah film action bertema heist dan militer, Triple Action tidak memiliki konflik yang benar-benar memberikan klimaks.
6.5
Biasa
Tonton
Yuk, lanjut baca
Mengenal Princess South East Asia Dari Trailer Raya and the Last Dragon
%d blogger menyukai ini: