Merenungkan Kembali Bagusnya The Fast and the Furious: Tokyo Drift

Pada awal perilisannya di tahun 2006, para penggemar saga Fast & Furious amat kecewa dengan cerita dari film terbaru berjudul The Fast & the Furious: Tokyo Drift. Film yang disutradarai oleh Justin Lin ini dianggap sebagai film paling lemah dan mengecewakan dibanding film sebelumnya.

Alasan yang paling sering kita dengar saat itu adalah Tokyo Drift menampilkan cerita baru yang seperti tidak ada kaitannya dengan seri utama Fast & Furious. Namun pada akhirnya waktu membalikkan semuanya (seperti terlihat di trailer F9). Mungkin para penggemar layak memikirkan ulang betapa bagusnya film ini.

Seiring berjalannya waktu, Fast & Furious semakin identik dengan adegan aksi terorisme. Kini saga yang menceritakan perjalanan keluarga Dominic Toretto tersebut malah nggak ada unsur balapannya sama sekali.

Para penggemar yang merasa frustasi boleh mengingat kembali series sebelumnya. Lihatlah The Fast and the Furious: Tokyo Drift. Coba pikir alasan mengapa pandangan terhadap film ini layak diubah.

Alasan pertama adalah Latar. Film ini berlatar di Jepang. Negeri sakura ini dikenal sebagai surga otomotif. Apalagi Fast & Furious adalah film yang punya kekuatan menceritakan kultur modifikasi pada mobil. Tentu saja kultur Jepang punya ciri khas tersendiri.

Dalam film ini kita bisa melihat banyaknya mobil-mobil modifikasi ala Jepang beserta kultur balapannya. Bahkan Tokyo Drift adalah film yang bertanggung jawab mempopulerkan budaya drifting pada khalayak umum.

Selain latar dan budaya plot dan alur cerita Tokyo Drift begitu sederhana dan murni. Tak seperti film-film Fast & Furious hari ini yang mengesampingkan balapan dan berfokus pada cerita tentang terosisme dan pasukan elit. Dalam Tokyo Drift, si tokoh utama hanya ingin mengalahkan musuhnya dalam balapan dan merebut gelar Drift King.

Selain itu sepanjang film, kita terus disuguhi perihal balapan dan balapan. Sang pemeran utama dan musuhnya tidak menyelesaikan masalah dengan tembak-tembakan atau adu jotos sampai mati. Mereka menyelesaikan masalah dengan cara balapan di gunung.

Kalau dilihat sekarang, Tokyo Drift bagai oase di tengah keringnya cerita Fast & Furious yang begitu-begitu saja. Intinya selalu menampilkan adegan lebay Dom yang selalu ingin jadi pahlawan kesiangan.

BACA JUGA  Lanjut! Fast & Furious 10 Akan Mulai Syuting Januari 2022

Kendati demikian, Saat Tokyo Drift dirilis, film ini tidak terlalu mendapatkan respon baik di box office. Bahkan film ini menjadi film Fast & Furious dengan pendapatan paling rendah.

Namun sekali lagi film bagus dilihat dari sisi relevansi, bukan penjualan. Film karya Justin Lin ini berhasil membuktikan bahwa Fast & Furious paling paripurna bukan ada di Brazil atau Amerika, tapi di sebuah kota bernama Tokyo.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: