5 Pesan Moral Spy X Family yang Jangan Sampai Kamu Lewatkan!

pesan moral di anime spy x family

Spy x Family adalah manga karangan Tatsuya Endo yang memulai serialisasinya tahun 2019. Pada April 2022, cour pertama serial animenya tayang. Kamu bisa menonton Spy X Family cour kedua setiap hari minggu di Netflix dan Prime Video pada musim Fall 2022.

Untuk cerita dengan premis keluarga, tentunya sudah banyak jumlahnya di deretan repositori manga dan anime. Salah satunya ya manga dan anime ini. Banyaknya pesan moral Spy x Family yang bertema keluarga (terutama parenting) memang membuat penonton merasa relate.

Sinopsis Spy x Family

Dari Kiri ke Kanan : Loid Forger, Anya Forger, Yor Forger

Spy x Family mengikuti cerita tentang Loid Forger, Yor Forger, dan Anya Forger. Keluarga Forger ini memiliki kemampuan dan identitas rahasia yang mereka sembunyikan satu sama lain.

Meski tidak seperti pada keluarga pada umumnya, seiring waktu berjalan mereka membentuk hubungan yang kuat dan saling melindungi. Situasi kocak dan berbagai masalah yang berawal dari kesalahpahaman menjadi daya tarik cerita ini.

Pesan Moral Spy X Family

1. Sebagai Orang Dewasa, Terkadang Tidak Ada Kata Istirahat

Loid dan Anya

Anya yang bersekolah di Eden school menampilkan sisi cerita yang imut dan lucu. Sedangkan sisi lain cerita, khususnya dari sisi sang Ayah, Loid, penonton dewasa Spy x Family terkadang dibuat geleng-geleng kepala.

Loid Forger punya kebiasaan untuk memaksakan diri bekerja. Operasi Strix yang ditanganinya sebagai agen rahasia Westalis sangatlah penting untuk menjaga perdamaian.

Tetapi, Loid juga menerima misi lain selain Operasi Strix. Seringkali Loid beralasan kalau agensi tempatnya kekurangan personil, dan ketika ada nyawa yang dipertaruhkan, sebisa mungkin Loid tak ingin ada korban.

Atasannya, Slyvia, sampai dimarahi karena terlalu banyak mempekerjakan Loid. Kesulitan Loid untuk menjaga kondisinya terus bertambah dengan bebannya sebagai seorang ayah. Termasuk memberi pelajaran pada Anya dan meladeni segala tingkah polah anaknya itu.

Ditambah lagi, Yor sama sekali tak bisa memasak. Membuat beban hidup Loid makin bertambah di rumah.

Tetapi, terkadang sebagai orang dewasa, ada kalanya kita tidak bisa menolak pekerjaan yang diberikan pada kita, kan?

BACA JUGA  Spoiler One Piece Chapter 979: Tugas Tobi Roppo

2. Perang Jauh Lebih Buruk dari yang Kita Bayangkan

Sylvia Sherwoood

Salah satu pesan moral Spy x Family adalah ketika Sylvia menangkap para teroris yang berniat menggunakan anjing sebagai bom. Awalnya, para teroris yang mayoritas masih mahasiswa itu begitu senang akan potensi pecahnya perang.

Sylvia kemudian menjelaskan apa yang sudah dilakukan para pemuda itu, juga kemungkinan perang yang bisa terjadi. Para teroris itu dipaksa untuk menghadapi horor yang bisa saja mereka sebabkan.

Sylvia mendeskripsikan dengan detail, soal kehilangan orang-orang tercinta sampai kelaparan yang akut karena tak ada yang bisa dimakan.

Sentimen ini juga dipahami oleh Loid, yang menjadi agen rashasia karena kehilangan keluarganya akibat perang.

3. Menyindir Generasi Cancel Culture

Masih membahas soal teroris di sesi sebelumnya, Spy x Family juga menekankan poin kalau banyak kaum muda yang tergiur untuk menjadi “Pahlawan” dengan mengalahkan “Musuh”.

Padahal, mereka sama sekali tak paham kondisi faktual di lapangan. Mereka membentuk “Musuh” versi mereka sendiri, dan menyalahkan pemerintah mereka sendiri dan generasi sebelumnya karena dianggap “Lemah” dan “Tak bisa mengambil keputusan”.

Di dunia nyata, bisa kita temukan banyak contoh kelompok seperti ini. Mereka yang dengan mudahnya melabeli pihak lain sebagai “musuh” demi memberikan kepuasan pada diri mereka sendiri.

Mereka sibuk berdebat kusir di media sosial. Bisa jadi inilah salah satu pesan moral di anime Spy x Family. Bahwasanya orang-orang yang merasa merekalah yang paling benar dan tahu segalanya, sebenarnya justru tak mengetahui apa-apa.

4. Selalu Memersiapkan Rencana B

Yor, Anya, dan Loid

Untuk bisa memasukkan Anya ke Eden Academy, keluarga Forger harus lolos interview bersama. Mereka dievaluasi bahkan sejak menginjakkan kaki ke lahan sekolah.

Sebagai salah satu bentuk ujian, pihak sekolah mengutus seorang siswa untuk berpura-pura terjatuh ke parit. Loid yang melihat siswa tersebut tidak ragu untuk menolongnya, membuat pakaiannya kotor.

Loid mengungkapkan kalau dia sudah memprediksi peristiwa seperti ini terjadi, dan membawa beberapa pakaian ganti. Para guru terkesan dengan persiapan keluarga tersebut.

5. Meritokrasi adalah Mitos

Eden Academy

Sejak awal cerita, sudah dijelaskan kalau Eden academy tempat Anya bersekolah adalah sekolah elit dan prestisius.

BACA JUGA  Robert De Niro Bintangi Film Netflix Terbaru The Formula

Diceritakan juga kalau banyak orang tua yang mencoba menyuap sekolah demi memasukkan anak-anak mereka ke Eden. Tetapi, di dalam anime dijelaskan kalau pihak sekolah tak akan bergeming dengan rayuan suap.

Sekilas, sekolah elit di Ostania ini merupakan perwujudan dari institusi yang meritokratis dan ideal, kan? Tempat dimana anak-anak paling berbakat bisa menimba ilmu dan mengembangkan bakat mereka dengan bimbingan guru-guru yang mencintai profesi mereka.

Tetapi, kalau kita perhatikan, ada celah di balik semua itu. Penonton yang cermat akan menyadari kalau mayoritas anak-anak yang diterima berasal dari keluarga yang berada. Kepala kepolisian, politisi, sampai pebisnis.

Lo, apa salahnya? Kalau ada anak yang berasal dari keluarga biasa bahkan miskin, dia juga bisa masuk Eden asal lulus ujian kan?

Benar. Tetapi, coba bandingkan. Siapa yang memiliki kemungkinan terbesar untuk lulus, seorang anak dengan pendidikan di rumah yang terbatas, atau anak yang sudah diberi pendidikan bermutu di rumah?

Keluarga yang kaya tentunya lebih mampu untuk menyewa tutor pelajaran bagi anaknya. Anak-anaknya bahkan sudah dijejali kursus keterampilan sejak kecil dalam hal seni.

Jelas, dibandingkan dengan anak-anak yang terlahir di keluarga biasa, mereka yang terlahir di keluarga elit seperti dimudahkan dalam menjalani hidupnya.

Ahli ekonomi Amerika Robert H. Frank menolak meritokrasi dalam bukunya, Success and Luck: Good Fortune and the Myth of Meritocracy. Robert menjelaskan kalau keberuntungan memainkan peran dalam kesuksesan seseorang, tidak murni berdasarkan usaha atau merit.

Robert tidak menafikan pentingnya kerja keras. Tetapi dengan menggunakan studi psikologis, formula matematis dan contoh-contoh lapangan, Robert mendemonstrasikan kalau peran keberuntungan sangat vital dalam kesuksesan orang-orang yang berhasil di pucuk masyarakat.

Mungkin pelajaran ini terlampau kelam karena dibalut cerita lucu ala Spy x Family, ya?

Your Thoughts?

Berikut sekiranya 5 pesan moral Spy x Family. Bagaimana menurut kalian, apa kalian setuju atau ada yang ingin kalian tambahkan?

Tuliskan komentar kalian di bawah, jangan lupa ikuti terus Spy x Family tiap minggu di Netflix atau Prime Video.

%d blogger menyukai ini: