Review Film Monster Hunter: Konsisten Jelek Sampai Ending!

Para penggemar gim Monster Hunter telah menantikan film adaptasi gim favorit mereka sejak lama. Pada akhir 2020 kemarin, film tersebut akhirnya dirilis. Kendati begitu banyak penggemar yang kurang yakin untuk menonton. Mereka mencari review film Monster Hunter terlebih dahulu, untuk mengetahui apakah film adaptasinya berjalan sesuai ekspektasi.

Nah buat para penonton dan terkhusus pecinta gim-nya, kali ini Popculture.id akan menulis review film Monster Hunter. Apakah film ini layak untuk disaksikan? Semoga saja ulasan kami bisa menambah sedikit pandangan. Daripada berlama-lama, yuk langsung aja simak reviewnya di bawah ini!

Plot

Perlu diakui, film Monster Hunter berhasil meneruskan tradisi jeleknya film adaptasi dari serial gim. Pasalnya, film ini memiliki plot yang sangat hambar dan kosong. Meski ada beberapa catatan menarik tentang cerita dalam film ini. Terlalu banyak yang ‘dipaksakan’ sehingga rasionalitas dan logika film tidak berjalan dan tidak tertangkap oleh penonton sebagaimana mestinya. Padahal film ini sangat potensial untuk jadi ‘bagus’.

Monster Hunter sendiri bercerita tentang seorang komandan pasukan bernama Artemis yang mendapati kejadian aneh saat menjalankan misi di sebuah gurun tak dikenal. Saat mereka mencoba mengamati, tiba-tiba pasukan tersebut dihantam oleh badai misterius yang membawa mereka ke dunia yang dipenuhi monster.

Di tengah bingung nan limbung, pasukan tersebut dihadapkan dengan monster besar yang hidup di gurun bernama Diablos. Karena nggak memiliki kemampuan bertarung serta senjata yang cukup mumpuni, satu per satu dari mereka mati. Mereka yang selamat pada akhirnya ditangkap oleh monster laba-laba lain bernama Nerscylla. Singkat cerita semua pasukan telah mati dan meninggalkan Artemis seorang diri. Artemis yang frutastasi dan depresi kemudian bertemu dengan seorang pemburu monster dan pada akhirnya berteman dan mencoba mengalahkan Diablos dan juga monster-monster lain dengan tujuan pulang kembali ke dunianya.

Pengembangan Karakter dan Cerita yang Tergesa-gesa

Ada beberapa hal yang membuat film Monster Hunter terasa sangat hambar dan kosong. Bahkan film ini mulai menunjuk kejelekan script, dan akting para pemerannya di awal cerita. Sebut saja kematian para pasukan Artemis oleh para monster. Ini nggak masuk akal mengingat mereka adalah tentara spesial yang telah memiliki bekal survival dan kombat di atas rata-rata. Kematian karakter tersebut juga terasa sia-sia, padahal ada beberapa tokoh unik yang mungkin bisa dieksplorasi demi kelanjutan cerita.

Pada dasarnya film Monster Hunter adalah film survival. Interaksi antara Artemis dan The Hunter yang diperankan Tony Jaa cukup menarik, meski sangat tergesa-gesa. Berbeda dengan gim yang mengharuskan pemain mengalahkan monster secara bertahap, Artemis hanya berlatih sebentar dan tiba-tiba dia harus melawan dan bisa mengalahkan Diablos bahkan Rathalos. Ini tentu saja mengkhianati hal fundamental dari gim Monster Hunter; time play. Maksudnya, pemain harus bersabar dan melatih diri dengan bermain sampai akhirnya punya perlengkapan kuat dan bisa menangkap monster-monster besar. Kendati begitu monster-monster yang muncul cukup keren dengan CGI yang rapi. Tentu saja sedikitnya monster yang muncul di film ini cukup mengecewakan para penonton terutama para penggemar.

Konsisten Jelek Sampai Ending

Monster Hunter adalah film yang buruk. Bahkan sampai akhirfilm ini tetap mempertahankan keburukannya. Monster Hunter ini ditutup dengan ending yang menggantung, menyisakan adegan mid-credit yang sepertinya cerita akan dilanjutkan ke film selanjutnya.

Secara keseluruhan film ini gagal dalam mengembangkan karakter, mengembangkan konflik bahkan menutup cerita. Kemunculan Felyne yang merupakan kucing ikonik para pemburu nggak membantu sama sekali. Bahkan munculnya monster besar Gore Magala juga tak membuat penonton merasakan hype sedikit pun.

Nggak ada cerita dengan penjelasan yang cukup, nggak ada eksplorasi. Terlalu banyak logika yang bertabrakan. Walhasil, di akhir cerita hanya ada adegan aksi dan pertarungan penuh efek di sana-sini yang hambar dan teramat kosong tak bermakna. Menonton film Monster Hunter persis seperti dipaksa melihat keegoisan sutradara dan penulis naskah. Film ini juga mengusik trauma dan mengingatkan penonton pada mitos ‘kejelekan film yang diadaptasi dari serial gim’.

Meski jelek, Monster Hunter tetap menghibur. Film ini cocok disaksikan oleh keluarga dan para pekerja yang sudah lelah bekerja dan ingin menyaksikan tontonan ringan. Jika memang akan dibuat sekuel semoga saja Monster Hunter bisa memperbaiki diri, berkaca pada kesalahan serta mempersiapkan cerita dengan lebih matang.

Monster Hunter
Ringkasan
Monster Hunter adalah film yang sangat buruk dari berbagai sisi. Akting yang seadanya, konflik yang kosong beserta pengembangan tokoh yang asal-asalan. Kendati begitu film ini cukup menghibur dan cocok jadi tontonan ringan.
3.5
Bad!
More Stories
Black Mirror Season 4 Review
%d bloggers like this: