‘Junji Ito Maniac: Japanese Tales of the Macabre’ Gagal Ekpresikan Dunia Horor Unik Ala Sang Maestro

Junji Ito Maniac

Junji Ito Maniac : Japanese Tales of the Macabre adalah adaptasi anime terbaru dari beberapa karya mangaka horor legendaris Jepang, Junji Ito. Sepanjang karirnya, Ito telah merilis berbagai cerita horor yang mencekam sepanjang karirnya selama beberapa dekade. Mulai dari karyanya yang ikonik seperti Uzumaki sampai ke manga serialisasi pertamanya yang sampai sekarang masih menjadi karya miliknya yang paling populer, Tomie.

Junji Ito sudah tak diragukan lagi sebagai figur yang mampu merangkai art yang creepy dilengkapi cerita yang membuat bulu kuduk berdiri sejak debutnya. Walau sudah banyak adaptasi dari manganya mulai dari film live action sampai ke anime dan OVA, masih belum ada adaptasi manga Junji Ito yang benar-benar memenuhi ekspektasi penggemar.

Junji Ito bisa dikatakan sebagai ikon tersendiri di dunia horor. Hasil karya manga-nya yang terdiri dari cerita-cerita sureal yang melengkapi ilustrasinya yang impresif, banyak menghasilkan penghargaan dan penggemar berat selama karirnya berlangsung.

Serial terbaru Netflix, Junji Ito Maniac: Japanese Tales of the Macabre adalah kesempatan emas untuk menampilkan dan memperkenalkan seperti apa karya Ito ke audiens baru, sekaligus selebrasi tersendiri bagi penggemar lamanya.

Bagaimana ‘Junji Ito Maniac: Japanese Tales of the Macabre’ Terlihat?

Junji Ito Maniac : Japanese Tales of the Macabre

Sayangnya, serial animasi terbaru ini kembali gagal menyamai kesuksesan dari manga asli Junji Ito. Fenomena sama terjadi saat serial TV pertama yang mengadaptasi antologi manga karya Junji Ito tayang pada 2018 lalu, Junji Ito: Collection.

Kalau dipikir-pikir, jelas saja hasil yang sama akan terulang. Studio Deen masih memegang kendali produksi, dan staf serta sutradara yang bekerja di Junji Ito: Collection masih bekerja di serial Junji Ito Maniac: Japanese Tales of the Macabre .

Selain Junji Ito: Collection , sebenarnya sudah banyak yang mencoba mengadaptasi karya Ito, mencoba membawa “kegilaan” dan atmosfir horor ala Ito keluar dari kerangka goresan kanvas dan panel manga. Beberapa film live action dan beberapa anime OVA sudah dirilis.

Tetapi, semua adaptasi tersebut menghadapi tembok halangan yang sama. Semua seperti kesulitan menyamai dan menyajikan atmosfir serupa yang membuat penggemar manga Junji Ito memegang tenggorokan penuh ketakutan.

Intinya, Junji Ito Maniac: Japanese Tales of the Macabre kembali menjadi adaptasi yang datar, dan kurang memorable.

Keraguan Sejak Sebelum Maniac Tayang

Hikizuri Siblings

Meski demikian, Junji Ito Maniac: Japanese Tales of the Macabre berhasil menampilkan beberapa hal yang tepat di adaptasinya. Animasinya menggunakan tema yang klasik, dengan line yang tebal dan perpaduan warna yang mereferensikan ilustrasi hitam-putih asli Junji Ito.

BACA JUGA  Resmi! Film "Enola Holmes 2" Dapat Lampu Hijau di Netflix

Sound effect creepy yang digabungkan dengan soundtrack yang mengundang atmosfir horor juga pantas disebut sebagai salah satu poin plus, dipadu dengan performa voice acting dari seiyuu dan pengisi suara yang sebisa mungkin membuat cerita horor yang disajikan lebih imersif.

Performa voice acting sangatlah vital, karena seperti yang dijelaskan di paragraf awal, Junji Ito Maniac: Japanese Tales of the Macabre gagal mengadaptasi core dari apa yang membuat horor ala Junji Ito begitu efektif.

Memang, ada beberapa elemen yang merupakan adaptasi persis dari panel manga ke layar animasi. Tetapi, karena keterbatasan waktu tayang, beberapa cerita harus diselesaikan sesuai slot waktu yang ada.

Hampir setiap cerita menghadirkan para karakter yang mengambil keputusan “aneh” yang berakibat kematian misterius atau sadis. Tentunya tanpa konteks yang jelas semua ini membuat para penonton bertanya-tanya.

Meski demikian, efeknya hanya menjadi “pengganggu” penonton ketimbang menakuti. Masih ada momen-momen horor yang memicu mimpi buruk ala Ito yang ada di adaptasi ini, tetapi tak cukup untuk membuat pentonton berteriak ketakutan.

Audio dan visual yang bagus dan meningkat dari Junji Ito: Collection tidak dilengkapi dengan editing cerita yang setengah-setengah, membuat beberapa elemen cerita dipotong dan tidak disajikan sempurna.

Ditambah lagi beberapa cerita yang dipilih memiliki ending yang kabur. Manga karya Junji Ito memang terkenal memiliki ending yang tergantung pada imajinasi penonton. Tetapi, sesuatu ayng efektif di suatu medium tak lantas bisa diterjemahkan sempurna di medium lainnya.

Adaptasi anime harus menghadirkan sesuatu yang berbeda, yang bisa dilakukan khusus di media animasi. Contohnya, manga 4 panel Bocchi the Rock! memiliki ilustrasi yang simple dan cute. Tetapi, adaptasi animenya menggunakan berbagai elemen seperti live action prop, 3D rendering, dan sinematografi unik untuk menyampaikan cerita yang sama.

Padatnya cerita yang diadaptasi dalam jangka waktu slot tayang yang ada juga patut diperhatikan sebagai salah satu penyebab penonton tak bisa mendapatkan adaptasi yang faithful. Kalau setiap cerita memiliki format OVA tersendiri dengan slot waktu yang tak terbatas dalam 24 menit tayang, mungkin akan ada hasil yang berbeda.

BACA JUGA  Kerennya Stranger Things Dalam Versi Komik

Total ada 20 cerita antologi Junji Ito yang diadaptasi di Junji Ito Maniac: Japanese Tales of the Macabre :

  • “The Strange Hikizuri Siblings”
  • “The Story of the Mysterious Tunnel”
  • “Ice Cream Bus”
  • “Hanging Balloon”
  • “Four x Four Walls”
  • “The Sandman’s Lair”
  • “Intruder”
  • “Long Hair in the Attic”
  • “Mold”
  • “Library Vision”
  • “Tomb Town”
  • “Layers of Terror”
  • “The Thing that Drifted Ashore”
  • “Tomie: Photo”
  • “Unendurable Labyrinth”
  • “The Bully”
  • “Alley”
  • “Headless Statue”
  • “Whispering Woman”
  • “Soichi’s Beloved Pet”

Dimulai Dengan Hikizuri Siblings

The Hanging Balloons

Mengadaptasi 20 cerita pendek antologi dari Junji Ito untuk dijadikan anime termasuk cerita ikonik seperti Tomie, The Hanging Balloons, dan The Bully tentunya bukan pekerjaan mudah. 12 episode Junji Ito Maniac: Japanese Tales of the Macabre berhasil menampilkan animasi berwarna yang merepresentasikan style dari Ito.

Menunjukkan art yang mumpuni sudah merupakan prestasi tersendiri, karena pada karya Junji Ito, art lebih dominan sebagai medium horor ketimbang ceritanya. Goresan hitam putih di setiap lembaran manga-nya sangat ikonik dan memicu sense horor yang unik.

Ada kekhawatiran kalau blank space (ruang kosong) akan banyak digunakan di animasinya. Tetapi, Studio Deen sudah berusaha memperbaiki diri, dan sebisa mungkin menghadirkan shot yang hidup di setiap frame-nya. Tetapi, seperti yang sudah dijelaskan di atas, tak semua adaptasi tepat dari panel ke frame animasi adalah pilihan yang benar.

“Strange Hikizuri Siblings” menjadi cerita pertama yang diadaptasi, dan meski banyak yang bertanya-tanya soal pilihan cerita, Hikizuri adalah pilihan yang wajar. Sebisa mungkin tim produksi menyimpan cerita yang lebih klimatik di pertengahan dan akhir episode penayangan.

Hikizuri Siblings menceritakan tentang keluarga aneh yang sudah kehilangan ayah mereka. Seorang ahli spiritual disewa untuk memanggil arwah ayah mereka untuk berkomunikasi dengan mereka.

Melenceng dari ekspektasi awal, puncak sekaligus episode terbaik dari Junji Ito Maniac: Japanese Tales of the Macabre adalah episode ketiga, bukan episode terakhir. Episode ini mengadaptasi The Hanging Balloons.

Menceritakan tentang bermunculannya berbagai balon raksasa yang menyerupai wajah semua orang. Di bawah balon tersebut terjuntai tali yang mengincar orang yang wajahnya menyerupai balon tersebut. Tak ada yang bisa lolos dari teror balon. Kalau ada yang mencoba menghancurkan balon, maka orang asli yang wajahnya diserupai akan ikut mati.

BACA JUGA  β€˜One-Punch Man’ Kembali Beraksi!

Tak ada yang bisa selamat, karena semua orang di hatinya seperti mengetahui kalau ada balon dengan wajah mereka yang ada di luar sana, menunggu untuk menggantung mereka kapan saja.

Teror yang tak bisa dihindari ini merupakan ciri khas karya Ito, yang berhasil diadaptasi dengan baik di Junji Ito Maniac: Japanese Tales of the Macabre. Frame yang memperlihatkan berbagai balon disertai mayat yang digantung bisa membuat siapa saja bergidik.

Cerita Lainnya Terasa Kurang

Setelah dari The Hanging Balloons, sayangnya cerita lainnya tidak mengikuti jejak yang serupa. Tomie’s Photos misalnya, menceritakan karakter Tomie yang merupakan gadis SMA manipulatif yang memikat siapa saja sampai menyebabkan tindak kekerasan.

Berbagai pilihan editing membuat beberapa elemen cerita terasa janggal. Hubungan Tomie dengan beberapa murid yang terobsesi dengannya atau mengapa foto Tomie yang diambil terlihat demikian tidak digambarkan secara kohesif. Informasi ini disajikan lengkap di versi manga-nya.

Kejanggalan ini membuat konflik antara sang protagonis dengan Tomie terasa hampa. Keanehan ini banyak disadari para penggemar asli manga Tomie dari Junji Ito. Karena cerita horor tak hanya soal monster atau adegan kekerasan brutal tanpa konteks tersendiri.

Kesimpulan

Ice Cream Bus

Kesimpulannya, Junji Ito Maniac: Japanese Tales of the Macabre berhasil mengadaptasi beberapa momen horor ala Junji Ito ke medium anime, dan gagal di beberapa aspek sisanya. The Hanging Balloon bisa terlihat disturbing karena konsepnya yang cocok dengan medium anime.

Tetapi, cerita seperti Ice Cream Bus lebih mirip ke cerita dari orang tua untuk menakuti anak sekolah agar cepat pulang ketimbang cerita horor. The Bully bahkan tidak memiliki elemen paranormal atau supernatural. Berbagai kekurangan tersebut membuat Junji Ito Maniac: Japanese Tales of the Macabre tidak terasa memorable secara keseluruhan.

Junji Ito Maniac: Japanese Tales of the Macabre memiliki voice work yang impresif, animasi yang meningkat sejak Junji Ito Collection , dan horor ala tubuh manusia yang disukai penggemar Junji Ito. Para pendatang baru penyuka Ito mungkin bisa menyukai anime ini sebagai pintu masuk ke karya Junji Ito.

Tetapi, mungkin akan lebih baik mengecek koleksi manga-nya secara langsung untuk experience yang lebih baik.

Junji Ito Maniac: Japanese Tales of the Macabre bisa kamu tonton di Netflix.

%d blogger menyukai ini: