Review Film The Swordsman: Kembalinya Villain Klasik Dalam Film

Pasca film Parasite garapan Bong Jon-hoo menang Oscar tahun 2019 kemarin, industri perfilman Korea mulai disorot dunia. Sineas dari negeri Gingseng mulai memproduksi film-film berkualitas. Pada tahun 2020 salah satu film yang disorot adalah The Swordsman. Pasalnya, baik penonton maupun kritikus memberikan review baik pada film The Swordsman yang digarap sutradara Choi Jaehoon ini.

Nggak hanya berhasil di negara asalnya, film The Swordsman sendiri menyita perhatian masyarakat dunia, termasuk di Indonesia. Khusus di negara kita, masyarakat penasaran dengan film ini karena menghadirkan aktor kenamaan Joe Taslim di dalamnya. Nah, kali ini Popculture.id berkesempatan untuk menulis Review film The Swordsman yang dirilis pada 28 Oktober 2020 silam ini. Apakah film ini layak ditonton?

Plot Terlalu Sederhana

The Swordsman adalah film yang mengambil tema kolosal era kerajaan Korea Joseon. Secara sederhana The Swordsman bercerita tentang seorang anak muda ahli pedang yang merupakan pengawal keluarga raja yang melarikan diri ke pegunungan saat rajanya dikudeta. Ia mendapat luka di matanya yang membuat hampir buta.

Bertahun-tahun berlalu pasca kudeta, kerajaan Joseon kedatangan penjajah dari Tiongkok yang berasal dari Ming-Qing. Mereka berniat menguasai kerajaan dan melakukan menculik warga untuk dijadikan budak. Konflik terjadi di antara kerajaan Joseon dan pasukan Ming-Qing. Rupanya, kerajaan Joseon memiliki pasukan yang minim pengalaman berperang. Joseon nggak punya harapan menang sampai akhirnya sang tokoh utama turun dari persembunyiannya dan terlibat konflik dengan para pasukan Ming-Qing.

Plot film ini terbilang cukup sederhana, dengan alur linear, The Swordsman menerapkan formula film laga pada umumnya. Bukan jelek, hanya saja ini terlalu biasa dan sudah banyak digunakan. Kendati begitu, sebagai penonton kita masih bisa menikmati setiap premis, konflik sampai klimaks film ini. Akhir cerita film ini pun teramat menyentuh, bagaimana seorang yang sekarat bisa menginspirasi orang-orang untuk berani membebaskan dirinya dari segala bentuk penindasan.

Kembalinya Villain Klasik

Meski plot dan alur ceritanya terlampau sederhana, film ini bisa menutupinya dengan pengembangan tokoh-tokoh di dalamnya. Dua tokoh penting yang sangat sentral dalam film ini yakni lain Tae-Yul dan Gurutai; sang protagonis dan antagonis.

Sebenarnya The Swordsman lebih banyak mengembangkan karakter Tae-Yul selaku pendekar pedang yang hebat. Kita di bawa menyelami cerita masa lalu sang tokoh, prinsip hidupnya sampai alasan mengapa ia nggak bisa tersenyum. Sosok tokoh utama yang bersikap dingin selalu punya kharismanya sendiri, sebuah formula klasik dalam film laga. Sama seperti tokoh John Wick, Leon atau Max di waralaba Mad Max. Mereka nggak banyak berkata-kata tapi selalu berhasil menyelesaikan masalah.

Saat tokoh utama dikembangkan, sang villain utama yang dibintangi oleh Joe Taslim tetap konsisten dan berada dalam koridornya. Joe Taslim tetap menjadi seorang pemimpin keji yang penuh perhitungan dan gila pertarungan. Sampai akhir, film ini nggak mencoba memperlihatkan sisi baik antagonis. Ia tetap menjadi sosok yang jahat sampai ajal menjemputnya.

Hal tersebut jadi sebuah kesenangan tersendiri, mengingat hari ini banyak film yang selalu memperlihatkan sisi baik dari penjahat; entah lewat adegan flashback atau lewat kata-kata tokoh utama. Villain yang punya masa lalu baik bukannya jelek, hanya saja sudah terlalu overused. Dewasa ini, penonton film laga ingin kembali melihat tokoh penjahat yang murni jahat.

Adegan Pertarungan Ciamik

Melihat dari judul, semua orang yang menonton film ini tentu ingin melihat adegan pertarungan pedang yang ciamik dan brutal. Beruntungnya, The Swordsman bisa memperlihatkan adegan-adegan pertarungan yang keren. Koreografinya nggak asal-asalan, sudut pengambilan gambarnya cukup baik dan setiap tebasan pedang tokoh utama punya emosi tersendiri. Ditambah lagi, setiap senjata yang dipegang oleh tokoh-tokoh di film ini sangat detil dan punya ciri khas nya sendiri.

Kita seperti menonton film John Wick versi kolosal. Ketika satu orang yang hampir buta bisa menang melawan puluhan orang berkekuatan penuh dan bersenjata lengkap. Hal paling menarik dari adegan pertarungan ini adalah sudut pandang yang berganti-ganti. Favorit saya adalah saat kamera mengambil sudut pandang tokoh utama dan berubah menjadi buram karena kebutaan. Koreografinya juga sangat keren dan punya emosi, ya bagaimanapun kemampuan seorang Joe Taslim nggak perlu diragukan lagi. Ada banyak adegan pertarungan dalam film ini tapi yang membekas adalah dua pertarungan terakhir.

Terlepas dari adegan pertarungan yang brutal dan liar, film ini nggak menghilangkan esensi dramanya. Bahkan The Swordsman menutup kisahnya dengan cara yang menyentuh; sang tokoh utama menjadi buta dan kembali ke pegunungan tempatnya tinggal. Singkatnya The Swordsman menutup filmnya dengan ending bahagia yang nggak murahan.

Nah itu dia review film The Swordsman versi Popculture.id. Film ini kami rekomendasikan untuk kamu tonton karena memang sangat bagus. The Swordsman nggak hanya menghibur tapi juga menginspirasi dan menyentuh. Film ini juga membawa kita pada memori menonton film-film laga klasik yang berakhir bahagia.

The Swordsman
Ringkasan
The Swordsman adalah film laga kolosal yang nggak hanya menghibur. Film ini berhasil menyampaikan pesan, menginspirasi dan menyentuh dalam satu waktu. The Swordsman juga membawa kita pada memori menonton film-film action klasik.
7.5
Keren!
Nonton
More Stories
Film Layar Lebar Batgirl Akan Digarap Sutradara “Bad Boy For Life”
%d blogger menyukai ini: